Ironi Pembangunan dan Modernitas yang Mati

Oleh: Hamzah Ichwal*

Modernitas identik dengan pembangunan. Lalu apa yang terjadi ketika pembangunan telah berubah menjadi sabotase di ruang-ruang perkotaan? Menyingkirkan semua bentuk yang dianggap tidak estetik, tidak rapih, dan tidak komersil. Sehari-hari yang kita temui adalah sebuah fenomena menggusur kaum marjinal di perkotaan untuk digantikan dengan mesin-mesin ekonomi, agar menghasilkan pertumbuhan, bukan kesejaheraan.

Kota telah berubah dari masa ke masa. Perubahannya tentu saja berlajan di atas serangkaian rancang pembangunan. Modernitas adalah produk kemajuan yang dianggap paling ampuh mengobati penyakit kehidupan. Sayangnya abstraksi modernitas dipahami hanya sebatas fisik, gedung-gedung tinggi, pabrikan, dan perkantoran. Lalu  bagaimana dengan manusianya? Seringkali pembangunan di era modern mengabaikan aspek bagaimana manusia hidup.

Lain halnya dengan analisis Marx dan Durkheim yang melihat bahwa modernitas sebagai suatu masalah yang rumit. Keduanya malah menganggap bahwa modernitas merupakan suatu era industri—yaitu wabah kapitalisme. Pada satu sisi memberi nilai tambah ekonomi, tapi disisi lain berdampak kerusakan. Kota menjadi lahan dimana kerusakan itu terjadi.

Kota dipaksa menjadi mesin bagi kemajuan modernitas. Maka kota, sebagaimana disebutkan Marco Kusumawijaya dalam bukunya Kota Rumah Kita, tak ubahnya metropolis—tempat bagi terjadinya proses modernisasi yang paling intensif, baik dalam arti konsentrasi maupun besaran, bila dibandingkan dengan lingkungannya. Metropolis bukanlah suatu tipologi planologis yang direncanakan dan harus dihindari maupun dijadikan tujuan, melainkan suatu kondisi objektif yang merupakan dampak logis dari modernitas.

Sebenarnya modernitas adalah proses yang vital bagi kemajuan kota, jika dikelola di bawah realitas humanisme. Modernitas juga dianggap sebagai model paling ampuh dalam prototype kota masa depan. Tapi lihatlah saat ini, pembangunan hanya menjadi simalakama. Pembangunan jadi proyek korupsi anggaran. Pembangunan menggusur rumah rakyat jadi mall. Pembangunan juga merobohkan pasar tradisional jadi supermarket. Lalu dimana tempat keberpihakan pembangunan bagi rakyat kecil?

Buku berjudul Endemik Modernitas ini adalah potret sebuah polemik pembangunan di Jakarta. Penulisnya adalah sekelompok mahasiswa dari LKM UNJ. Gaya tulisan dalam buku ini dibuat dengan gaya feature. Lebih terlihat seakan sebuah laporan jurnalistik ketimbang buku popular.

Dalam pembuatan buku ini, mahasiswa melakukan peliputan berbulan-bulan lamanya, menjaga hubungan dengan tempat yang dijadikan objek liputan. Menemui nara sumber dan memahami masalah di lapangan. Ini merupakan pengalaman baru bagi mahasiswa yang biasanya berdiam di rungan kelas yang beku.

Pengambilan objek liputan juga sepenuhnya inisiatif dari mahasiswa. Hanya pada temanya diskusi dilakukan secara intensif. Buku ini merupakan sebuah jawaban dari keresahan yang dialami oleh para mahasiswa yang kuliah di Jakarta. Melihat fenomena pembangunan yang destruktif, mahasiswa ini melakukan suatu tindakan berupa rekaman tulisan.

Buku dengan tema perkotaan ini patut dibaca oleh kalangan umum, baik masyarakat kota Jakarta ataupun bukan. Buku ini juga baik untuk sarana membangun wacana kritis bagi kebijakan pemerintahan Jakarta di bidang tata kota, sosial, ekonomi, moral dan lingkungan. Harapannya ke depan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan sebagai sarana untuk keterwakilan civil society agar tidak dirugikan.

*Penulis adalah pegiat diskusi buku di Pustaka Kaji, saat ini bekerja sebagai penulis di Pustaka Bisnis Indonesia