Kisah di Pusaran Landmark Jakarta

Oleh: Hamzah Ichwal*

Mungkin banyak orang yang bertanya apa itu landmark? Sebenarnya istilah ini seringkali muncul pada disiplin ilmu arsitektur. Dalam buku karangan Kevin Lynch berjudul The Image of The City—sebuah buku yang mengulas habis bidang arsitetur dan planologi—landmark berarti sebuah tempat, monumen, taman, ataupun patung yang merefleksikan sejarah dari kota di mana ia dibangun.

Sejarah suatu kota tidak bisa dilepaskan dari citra yang ditampilkan oleh kota itu sendiri. Prosesnya berjalan sampai pada persepsi masyarakat atas citra kota. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kota pada dasarnya adalah relasi antara citra yang ditampakkan melalui landmark dan relasi sosial dari masyarakat di dalamnya. Sehingga menjadi sinergi timbal balik.

Lalu apa fungsi landmark? Sehingga ia menjadi penting? Sebenarnya yang penting bagi landmark bagi sebuah kota adalah makna yang ditangkap oleh penghuninya. Bila kota sudah tidak lagi memiliki makna bagi penghuninya, maka semua apa yang terjadi di atas sebuah kota tidak lagi manusiawi. Seperti kota yang penuh sampah, kemacetan dimana-mana, banjir yang tidak juga surut, serta kaum marjinal yang terlantar.

Kehidupan kota pada abad modern merubah sisi humanis menjadi mekanis. Semua geraknya dibangun atas prinsip ekonomi. Kesibukan yang padat membuat orang tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi, walaupun sebatas menyapa tetangga. Manusia diperlakukan seperti mesin yang siang dan malamnya diisi dengan kerja.

Kebanyakan kaum urban kota kehilangan makna tentang hidup. Tidak mengerti tentang arti sebuah tujuan hidup. Apalagi memikirkan kota sebagai tempa tinggal. Maka sisi humanis antara manusia dan kota semakin terkikis. Masalah yang muncul adalah masyarakat membutuhkan sebuah media dalam rangka menjalani kodratnya untuk bersosialisasi dan memikirkan kehidupan. Dengan cara itu, kreativitas akan muncul, dan secara alamiah kehidupan menjadi bermakna.

Landmark di banyak kota dijadikan tempat berkumpul untuk melakukan sebuah aktivitas. Di dalamnya orang melakukan relasi sosial. Jadi dalam konteks biner manusia dan kota, landmark berdiri sebagai ruang publik yang menyediakan banyak fasilitas untuk mengembalikan manusia pada kodratnya. Kehidupan menjadi indah.

Makna membuat orang menghayati sesuatu dengan tulus. Makna juga bisa membuat orang merasa memiliki. Maka masyarakat Jakarta yang dapat menghayati denyut kehidupan di dalamnya akan bisa menjaga kota ini tetap humanis. Yakni menjadikan hidup di kota seperti Jakarta berada dalam suasana yang terbuka dan partisipatif.

Buku karya mahasiswa LKM UNJ ini merupakan hasil studi lapangan—yang dituliskan dengan gaya feature—tentang bagaimana relasi masyarakat dalam landmark. Bagaimana masyarakat memaknai kotanya sendiri. Di dalamnya adalah sebuah kisah tentang keberadaan Jakarta dan sejarahnya. Sementara landmark adalah sebuah medium sejarah yang diabadikan dalam sebuah ingatan masyarakat.

Prosesnya tentu tidak mudah, berbagai cara mereka lakukan dengan tujuan untuk mendapakan potret relasi masyarakat yang ada di setiap landmark. Terkadang harus pulang larut malam dan datang teramat pagi untuk mengetahui detil kondisi kehidupan di landmark Jakarta. Hal itu penting untuk dapat membuat feature yang baik.

Meski tidak dapat mencakup keseluruhan landmark yang ada di Jakarta, buku ini cukup bisa mewakili keberadaan landmark terpenting tentang sejarah kota Jakarta. Landmark yang dibahas antara lain Monas, Taman Suropati, Senayan, Bunderan HI, Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Tugu Tani, Lapangan Banteng, Pasar Baru, Sunda Kelapa, Patung Sudirman, Tugu Pancoran, Taman Proklamasi, Rumah Pitung, Stasiun Kota, Museum Sumpah Pemuda, Halim Perdana Kusuma.

Perlu diapresiasi ikhtiar para mahasiswa LKM UNJ dalam mengupas landmark di Jakarta serta relasi sosialnya di ruang publik. Terlepas dari kekurangan yang terjadi, buku ini adalah sebuah gambaran tentang sekelompok mahasiswa yang bekerja keras untuk memaknai proses belajar sebagai suatu upaya mencari pengalaman di luar kelas—yang biasanya jadi tempat mereka duduk dengan manis dan menanti nilai IPK turun tiap semester.

Semoga muncul karya-karya selanjutnya dan tidak akan bernah bisa dihentikan oleh berbagai rintangan apapun. Karena sejatinya manusia akademik akan terus melahirkan pemikiran yang tidak mesti besar, tetapi berkesinambungan dan mencerahkan.

*Penulis adalah pegiat diskusi buku di Pustaka Kaji, saat ini bekerja sebagai penulis di Pustaka Bisnis Indonesia