Kerajaan Merina: Pelayaran Nusantara dan Kemunduran Budaya Maritim

Oleh: Hamzah Ichwal*

Buku lusung berwarna perpaduan merah, hijau dan putih itu sudah rapuh dengan bolong bekas sundutan rokok dan bakaran lilin di sekujur badannya, tertulis judul besar dalam cover “Merina”, di atasnya ada nama penulis S. Tasrif. Terpampang sebuah peta dalam cover-nya, itu adalah Pulau Madagaskar. Judul buku itu Pasang Surut Kerajaan Merina, Sejarah Sebuah Negara yang Didiirikanoleh Perantau Indonesua di Madagaskar. Buku itu diterbitkan oleh Balai Buku Media, Djakarta, pada 1966.

Penulisnya, S. Tasrif, berprofesi sebagai pengacara. Ia termasuk pelopor yang memperjuangkan bantuan hukum kepada rakyat, bahkan sebelum Adnan Buyung Nasuiton mendirikan Lembaga bantuan Hukum (LBH) pada 1969, Ia telah lebih dulu berbicara tentang bantuan hukum di Indonesia, dalam sebuah artikel yang ditulisnya di harian Pelopor Baru (16/07/68), bahwa bantuan hukum bagi si miskin merupakan satu aspek cita-cita dari rule of the law.

Nama panjangnya Suardi Tasrif, dikenal sebagai orang yang bersifat universal, intensif dalam pergaulan dan pekerjaan, serta berwawasan luas. Dalam belantara buku sejarah kemaritiman nusantara namanya jarang kita dengar. Namun, di samping persoalan hukum, ia menaruh perhatian besar pada persoalan sejarah Negara-negara Asia-Afrika. Menurutnya, buku ini mengangkat topik yang khas karena ada pertalian darah antara bangsa Indonesia dan rakyat Madagaskar, dan dikenal dengan nama Malagasi. [Hal 11]

Tasrif mengawali pendidikannya di sekolah rakyat tahun 1929-1936. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekarang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Palembang tahun 1936-1939, lalu ke Algemeene Middelbare School (AMS) sekarang Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1939-1942. Setelah menyelesaikan AMS, Suardi melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1962-1965. Selain pendidikan formal, Suardi juga mengikuti pendidikan non formal seperti kursus politik di Universitas Colombia.

Tidak aneh jika Ia dapat mengarang buku sejarah ini. Buku setebal 228 ini memang termasuk buku dengan spesifikasi pembahasan yang khusus. Bahan yang dijadikan rujukan dalam buku ini hampir semua sumber asing, hanya satu yang berbahasa Indonesia, yaitu karangan Mohammad Yamin berjudul Tata Negara Madjapahit yang diterbitkan pada 1962.

***

Buku yang mengulas tentang sejarah kejayaan maritim nusantara memang tidak banyak. Ada nama besar Adrian B. Lapian yang memusatkan perhatiannya pada sejarah kemaritiman, Ia menulis Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan ke-17 dan Orang Laut Bajak Laut Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Ia pelopor sekaligus pengembang utama disiplin sejarah kelautan Indonesia dan Asia Tenggara. Karyanya menjadi tolak ukur penting dalam sejarah kelautan dan budaya maritim.

Cerita tentang sejarah pelayaran nusantara di bawah abad 16 sempat ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, dalam novel Arus Balik, terbit pada 1995. Novel ini mengisahkan sebuah arus yang berbalik, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit (1478 M) membuat Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan dan membawa arus ke arah Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya (Nusantara saat itu) harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah.

Majapahit, menjadi kekuatan maritim terbesar pada abad nya (1350 – 1389 M), mengusai hampir seluruh bagian dari negara Indonesia saat ini, hingga Singapura (Tumasik), Malaysia (Malaya), dan beberapa negera ASEAN lainya. Tapi, itu hanya kisah dongeng masa lalu bagi masyarakat desa saat itu. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini.

Di abad ke-5, berdasarkan sumber candi di Jawa dan prasasti-prasasti yang berbahasa Sansekerta, ada cerita tentang kejayaan Sriwijaya yang sedang menguasai Nusantara. Ini dibahas oleh Denys Lombard dalam buku Le Carrefour Javanis yang dapat dibaca dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia dengan judul Nusa Jawa Silang Budaya di serial yang ke-2. Dalam buku itu ada bab khusus yang membahas tentang pelayaran orang-orang Kunlun, yaitu sebutan untuk orang melayu dalam bahasa Cina kuno. Begini deskripsinya Kunlun people have curly hair, dark bodies, bare feet and wear sarongs.

Buku itu menyebutkan, orang Cina mengenal pelayaran dengan bantuan dari orang-orang Kunlun, yaitu orang-orang laut di Asia Tenggara yang sudah ada sebelum orang-orang Cina mulai berlayar. Bukti dari hubungan antara Cina denga Jawa adalah ditemukannya banyak barang keramik dari zaman dinasti Tang di atas acropolis Ratu Baka, hiasan pada Candi Sewu yang sama dengan hiasan kain sutera di Shosoin, adanya istilah Juru Cina dan Juru Barata yang ditemukan dalam sebuah prasasti perunggu di Jawa Timur yang berasal dari tahun 860M.

Catatan awal tentang Jawa adalah tulisan dari seorang Cina, Fa Hsien, yang berlayar dari India tapi terkena badai dan mendarat di Ye-Po-Ti atau Yawadwi, nama Pulau Jawa dalam bahasa Sansekerta, pada tahun 412. Sebutan Jawa oleh Cina juga berubah-ubah, yaitu She-Po pada abad ke 5, diganti oleh He-ling dari tahun 640 sampai 818, berganti lagi ke She-Po pada tahun 820, lalu pada jaman Dinasti Yuan diganti menjadi Zhao-wa.

Khusus untuk pembahasan tentang perjalanan maritim perantau Indonesia ke Madagaskar. Saya hanya menemukan 3 sumber dari penulis Indonesia, yaitu S. Tasrif dengan Pasang Surut Kerajaan Merina, kemudian Dr. Mohammad Nazif dalam De Val van het Rijk Merina, merupakan disertasinya untuk gelar doctor ilmu hukum pada Rechtshogeschool di Jakarta, dan Muhammad Yamin dalam pengantar buku Tata Negara Madjapahit, yang ditulisnya saat berada di Madagaskar.

***

Sebuah jurnal berjudul A Small Cohort of Island Southeast Asian Women Founded Madagascar menyatakan dengan jelas bahwa nenek moyang orang Madagaskar adalah orang Indonesia, setelah menganalisis DNA mitokondria yang diturunkan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari 3 etnis Madagaskar (Malagasi): yaitu etnis Mikea, Vezo, dan Andriana Merina. Jurnal itu diterbitkan oleh Proceedings of the Royal Society (21/03/2012), lembaga penerbitannya berpusat di Inggris.

Penelitian itu dilakukan oleh kelompok yang terdiri dari 5 orang, dan diketuai oleh Murray Cox, seorang ahli biologi molekuler dari University Massey, Selandia Baru. 4 orang anggiotanya adalah Michael G. Nelson, Meryane K. Tumonggor, dan Francois-X Ricaut, dan Herawati Sudoyo. Syukurlah, ada 1 orang wanita dari Indonesia yang berasal dari Eijkman Institute for Molecular Biology, Jakarta.

Cox dalam penelitiannya mengatakan bahwa hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa sekira 30 orang perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun silam. Mereka disertai beberapa lelaki yang jumlahnya lebih sedikit. Penelitian DNA ini memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Secara arkeologis, linguistik, kebudayaan, dan ketatanegaraan, dan ciri fisik orang-orang Madagaskar menunjukkan bukti tentang pelayaran nusantara ke Madagaskar.

Bahkan dikatakan pelayaran nusantara itu telah menjadi pendiri Negara Madagaskar yang telah berdiri dengan megah selama 3 abad lamanya bernama Kerajaan Merina. Kerajaan ini kemudian karena tangan kotor dari kamu kolonialis telah mengalami keruntuhan pada akhhir abad ke-19, tetapi kemudian dengan melewati masa penjajahan Prancis selama 65 tahun ia terlahir kembali pada tanggal 26 Juni 1960 sebagai Republik Malagasi yang merdeka dan berdaulat [Hal 12].

Dalam buku Pasang Surut Kerajaan Merina dijabarkan dengan sangat jelas betapa kuatnya bukti-bukti kuat tentang perantauan orang Indonesia ke Madagaskar. Bukti arkeologis mengatakan dengan temuan perahu bercadik ganda, peralatan besi, alat musik xylophone atau gambang, dan makanan tropis seperti tanaman ubi jalar, pisang, dan talas. Khusus soal perahu, Guillaume Grandidier menjamin bahwa hanya dengan mengikuti arus gelombang Samudera Indonesia perahu itu dapat mencapai Madagaskar. Tesis itu ia katakan setelah menemukan macam batu yang disemburkan akibat letusan Gunung Krakatau di Port Elizabeth, terbawa oleh gelombang Samudera Indonesia. Cerita itu dikatakan Grandidier dalam Ethnographie de Madagascar. [Hal 39]

Dalam hal linguistik, Aristide Merre memberi gambaran tentang kemiripan beberapa kosa kata. Marre menunjukkan bahwa terdapat kemiripan bahasa Malagasi dengan banyak kata-kata yang akarnya dating dari kebudayaan Jawa, Melayu, batak, Dayak, Makassar, Bugis, dan Tagalog, dan Bisaya di Filipina. Misalnya perkataan padi, dalam bahasa Jawa menjadi pari, dalam bahasa melayu padi, dalam bahasa dayak parai, dalam bahasa Tagalog palay. Dalam bahasa Malagasi menjadi vary. Kemiripan itu ditulis oleh Merre dalam buku berbahasa Prancis berjudul L’immigration Malaise dans Madagascar. [Hal 45]

Grandidier, selain menitikberatkan perhatian dari sisi linguistik, juga memberi pandangan pada soal lain, beliau mengatakan bahwa perubahan yang dibawa akibat dari migrasi perantau Indonesia juga masuk ke dalam organisasi kemasyarakatan, pertanian, peternakan, pemakaian logam, tjara membuat rumah, benteng, dan mendorong kemajuan dalam bidang perdagangan dan industri sehingga wajah Madagaskar seketika berubah. Grandidier menulilsnya dalam Etnoggraphie de Madagascar. [Hal 52]

Dalam hal kepercayaan dan adat-istiadat, Hubert Deschamps mengatakan peninggalan kebudayaan Indonesia yang terdapat di Madagaskar adalah sikap hormat terhadap orang tua, upacara pemakaman mayat, kepercayaan bahwa orang dapat kesurupan oleh makhluk halus, kisah mistik, pemotongan rambut pertama dari anak bayi, Deschamps menulisnya dalam buku Madagascar, Commores, Terres Australes. [Hal 54]

Deschamps juga melukiskan orang Malagasi yang beraliran darah Indonesia bersifat sabar, tidak lekas marah, ada perasaan berharga diri, memiliki tatakrama yang halus, berkecenderungan untuk berbicara panjang-lebar penuh fantasi, praktis, mempunyai ingatan yang kuat, dan berkecakapan untuk mengasimilasi diri secara luar biasa. [Hal 55]

Van Vollenhove, dalam buku berjudul Het Adatrecht van Ned, menjelaskan tentang pengaruh hukum perantau Indonesia ke Madagaskar, mengatakan bahwa di Madagaskar, hukum adat dalam pepatah menyamai kebiasaan di Minangkabau, larangan memetik tanaman muda menyamai larangan yang terdapat di Maluku, perjanjian saling-mengurus yang ada di Minahasa. [Hal 56]

Soal kesamaan hukum adat istiadat dan ketatanegaraan juga pernah dikatakan oleh Muhammad Yamin, ahli hukum dan sejarah, yang sudah mengunjungi Madagaskar sebanyak 2 kali, beliau menyinggungnya dalam pengaantar buku Tata Negara Madjapahit, namun sayang menurut S. Tasrif beliau belum sempat menerbitkan hasil penelitiannya tentang Madagaskar.

***

Jarak antara Indonesia dengan Madagaskar tidak kurang dari 3000 mil, atau setara dengan 4.800 km. Jarak sejauh itu setara dengan perjalanan dari Prancis ke kota Makkah al Mukarromah, atau hampir 5 kali lipat panjang Jalan Raya Pos yang dibangun Herman Willem Daendels. Maka sejauh itulah pelayaran yang dilakukan perantau Indonesia ke Madagaskar melewati Samudera Hindia. Pulau Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia

Bisa dibayangkan betapa sulitnya perjalanan mereka menaklukkan Samudera Hindia yang memiliki kumpulan air terbesar di dunia dengan palung terdalam mencapai 7.258 m, dengan ketinggian ombak normal mencapai 2 sampai 3 meter. Dengan menggunakan perahu layar sederhana, perantau Indonesia bisa melakukannya. Dapat anda bayangkan betapa tangguhnya nenek moyang kita di laut lepas. Setiap perahu berisikan 200 orang, mereka biasanya terdiri dari beberapa keluarga.

Kalau bukan dengan pengetahuan yang mendalam mengenai keadaan samudera itu, para pelaut yang bersangkutan dan mengharuskan adanya peralatan yang sempurna untuk mengadakan perjalanan itu; dengan singkat memerlukan segala sesuatu yang penting bagi perjalanan melalui lautan dengan cara yang berada pada taraf tingkat tinggi. Dan segala persiapan ini hanya mungkin dilakukan oleh suatu bangsa yang telah berada pada suatu peradaban yang tinggi. [Hal 42]

Seorang sarjana Prancis bernama Gabriel Ferrand mengisahkan perjalanan perantau Indonesia ke Madagaskar itu terjadi kira-kira pada abad ke-2 dan ke-4, namun ada yang berpendapat bahwa sebelum abad ke-2 perantau Indonesia sudah melakukan perjalanan itu. Ferrand menulisnya dalam Encyclopedie de Islam III. Descham dan Merre kemudian sependapat dengan Ferrand karena alasan kemiripan bahasa Malagasi dengan Bahasa Indonesia.

Gelombang perantau Indonesia itu berlangsung hingga abad ke-16. Perawakan perantau Indonesia itu sempat direkam oleh Stephane Faye, ia mengatakan “Perawakannya kecil, kepalanya rata di sebelah belakang, warna kulitnya sawo muda, keningnya besar, tulang pipinya menonjol, matanya sipit, dan hidungnya pesek, sedangkan rambutnya panjang yang di belakang diikatmenjadi gelung dan jenggotnya kasar dan jarang.”

Setelah sampai di Madagaskar, mereka menetap di pantai timur yang iklimnya sama dengan Indonesia, kemudian perlahan pindah ke bagian tengah yang terdapat di dalamnya gunung-gunung. Bertemulah perantau itu dengan suku Vazimba, suku asli Madagaskar. Suku Vazimba ini dipimpim oleh ratu bernama Rangita yang akhirnya dinikahi oleh para perantau. Dari perkawinan itu lahirlah anak bernama Andriamanelo. Dialah yang kemudian mendirikan Kerajaan Merina, kekuasaannya melingkupi seluruh pulau Madagaskar.

Tercatat Kerajaan Merina berdiri pertama kali tahun 1590, di bawah Andrianamelo yang memimpin sampai 1615. Setelahnya, yang menjadi pemimpin adalah anaknya sendiri Radja Ralambo (1615-1640). Kerajaan Merina bisa dikatakan adalah pemersatu bangsa Malagasi yang tadinya terdiri dari berbagai macam suku etnik. Pada 1864 PM, Rainilaiarivony memimpin Kerajaan Merina, dengan menggulingkan Rainivonninahitrionlony. Rainilaiarivony adalah keturunan rakyat biasa yang berkuasa lebih dari 30 tahun sebagai perdana menteri. Di masanya Kerajaan Merina mengalami modernisasi.

Pada saat yang bersamaan dengan berjalannya Kerajaan Merina, Prancis dan Inggris saat itu melakukan pelayaran dan tiba di Madagaskar, tercatat bahwa kedatangan keduanya dimulai pada abad ke-15. Terjadi beberapa perang antara Prancis dengan Kerajaan Merina, Inggris juga melakukan pendekatan terhadap Kerjaan Merina dan memasukkan beberapa doktrin dalam kebijakan Kerajaan Merina. Sempat juga terjadi perundingan antara Kerajaan Merina dengan Prancis, tapi kemudian banyak pelanggaran yang mereka lakukan dan memicu perang.

Inggris dan Prancis bersekongkol untuk melakukan pengendalian atas wilayah Madagaskar. Respon dari Kerajaan Merina tentu saja perlawanan. Terjadilah perang. Sampai akhirnya tanggal 1 Oktober 1895 Kerajaan Merina jatuh ke tangan Prancis, kekuatan inggris juga ikut dilumpuhkan oleh Prancis. Rakyat Kerajaan Merina secara otoritas dikerdilkan oleh Pemerintah Jajahan Prancis, Ratu terakhirnya Ranavalona III.

Pada tahun1910, muncul perlawanan dari perkumpulan pelajar, gerakan perlawanan itu menyebar luas ke seluruh Madagaskar. Lalu muncul pemberontakan beruntun pada 1916, 1929, 1947. Setapak demi setapak pada 1958 diberikanlah otonomi kepada Madagaskar, kemudian pad 1960 mulailah dilakukan perundingan ke arah kemerdekaan. Dan akhirnya pada 26 juni 1960 lahirlah Republik Malagasi yang berstatus Negara persemakmuran Prancis. Dengan demikian, Kerajaan Merina terhapus pada 1897 hingga lahirnya Republik Malagasi di tahun 1960, Madagaskar mengalami penjajahan selam 65 tahun.

***

Dapat kita saksikan dari perantau Indonesia ke Madagaskar bahwa pendahulu bangsa Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal pelayaran. Tapi saat ini justru kita memiliki kemunduran. Kini Indonesia mengalami kemunduran dalam hal kemaritiman. Contiohnya dari hasil laut. Thailand yang tidak seberapa perairannya malah mampu menghimpun pendapatan Rp 180 triliun per tahun dari ikan laut. Taiwan lebih hebat lagi, mampu mengumpulkan hingga Rp 380 triliun per tahunnya yang sebagian besar diperoleh dari ikan-ikan di Indonesia. Ratusan triliun Rupiah dikumpulkan pula oleh negara-negara lain dari potensi kelautan Indonesia. Sedangkan Indonesia sendiri hanya mampu hasilkan Rp 40 triliun setiap tahun!!!

Kemunduran dunia kemaritiman Jawa, dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, mengecilnya ukuran kapal-kapal Jawa yang berlayar ke seberang lautan, secara otomatis akan mengurangi barang-barang yang bisa mereka perjualbelikan. Hal ini tentu berakibat kalahnya mereka dalam persaingan dengan pemain-pemain lain, seperti Aceh, Makassar, dan VOC Belanda. Selain bersaing dengan kerajaan luar, antara kota-kota pelabuhan tersebut-pun juga terjadi rivalitas yang amat tajam.

Kedua, Keadaan ini semakin diperparah oleh Kesultanan Mataram di pedalaman. Raja-raja Mataram yang terkenal bengis dan otoriter itu, tak memperkenankan orang-orang pesisir untuk berdagang dengan dunia luar. Dengan menguatnya kedudukan politik Mataram di tanah Jawa, maka mereka hendak pula memonopoli perdagangan. Untuk merealisasikan keinginannya itu, Mataram segera menghancurkan kota-kota niaga di pesisir.

Berturut-turut adalah Lasem (1616), Tuban (1619), Gresik (1623), dan Surabaya (1625). Sedangkan Jepara yang tetap mempertahankan loyalitasnya kepada Sultan Agung, diserang oleh VOC pada tahun 1628-29, tanpa ada pembelaan dari Mataram. Yang lebih gilanya lagi, penerus Sultan Agung : Amangkurat I, menutup semua pelabuhan dan memerintahkan penghancuran terhadap semua kapal. Kombinasi antara tekanan maritim VOC dan kecurigaan Mataram terhadap masyarakat pesisir, menyebabkan menurunnya dunia kemaritiman masyarakat Jawa.

Dengan ditutupnya pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara, maka pada pertengahan abad ke-17 terjadi eksodus besar-besaran pelaut Jawa (termasuk orang-orang keturunan Arab dan Tionghoa) ke seantero Nusantara. Di berbagai tempat mereka segera berbaur, berkawin campur, dan mengidentifikasikan dirinya sebagai “orang Melayu”. Saudagar-saudagar yang lebih besar, pindah ke pelabuhan yang dianggap bisa melindungi kepentingan mereka, seperti Banten, Makassar, Malaka, Aceh, Palembang, dan Banjarmasin.

Ketiga, yaitu mitos yang dikembangkan untuk menakut-nakuti orang untuk melaut. Ini pernah diungkapkan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam pidato penerimaan penghargaan Ramon Magsaysay 1988. Ia mengatakan bahwa cerita Ratu Laut Kidul itu hanya mitos belaka. Dalam pidato tertulisnya yang berjudul Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan? Pram menjelaskan para pujangga istana Mataram menciptakan mitos Nyi Roro Kidul sebagai kompensasi kekalahan Sultan Agung saat menyerang Batavia, sekaligus gagal menguasai jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa.

“Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mitos ini melahirkan anak-anak mitos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut,” tulis Pram.

Pram juga mengatakan bahwa mitos tabu menggunakan pakaian berwarna hijau di wilayah Pantai Selatan karena pujangga istana Mataram ingin memutuskan asosiasi orang pada warna pakaian tentara Kompeni yang juga berwarna hijau. Sejak saat itulah orang-orang Indonesia takut untuk pergi ke Pantai bila tiba-tiba ada ratu pantai Selatan datang dan menculik, kemudian dibawanya kita ke dalam kerajaan sampai-sampai tak kembali lagi, mati dalam keadaan mengambang di lautan. Bila ke pantai saja takut, apalagi untuk pergi melaut dan menaklukkan ombak seperti peratau Indonesia ke Madagaskar.

*Penulis adalah pegiat diskusi buku di Pustaka Kaji, saat ini bekerja sebagai penulis di Pustaka Bisnis Indonesia