Di Pintu Belakang Rumah Negara Bertamu*

Rianto**

Membaca bisa menjadi sebuah pencarian. Di sebuah artikel pilu setengah gembira seorang Antropolog curhat di koran sekaligus ingin berkisah, “ilmu antropologi kini menjadi ilmu yang sepi nan muram”. Ilmu antropologi adalah ilmu yang jarang diminati dan menjadi ilmu yang membosankan. Pembacaan sunyi di sebuah koranmengenai ilmu antropologi yang sepi nan muram itu mendapatkan jawabanya dalam buku Back Door Java (Obor, 2013).

Ilmu antropologi adalah ilmu yang mau mendengar, mencatatnya menjadi bagian hidup seorang peneliti yang ikut hadir mendengar, mengoborol, lalu menulisnya di waktu senggang sebagai catatan kebudayaan.

Jan Newberry seorang kepala jurusan antropologi University Lithberdg Kanada, berkisah mengenai pintu belakang yang tak sepi akan makna politik. Negara bisa masuk lewat pintu belakang  menancapkan ide kuasa atas nama pembangunan.

Jan Newbery memberikan penjelasan, “ Minat penelitian saya pada awalnya mengenai kaitan antara masyarakat pertanian dan negara”.“Namun kenyataannya, saya habiskan waktu saya di dapur orang jawa  di perkotaan, diantara orang miskin dan warga kelas pekerja  yang hidup mencari makan  dari hari ke hari.”

Jan Newbwery menganggap dapur penting bagi orang-orang jawa. Di dapur arti ‘kuasa’ menyelimuti tubuh perempuan yang  mengobrol, bercerita, membuat kue,mengiris bawang, menggoreng emping,  menyiapkan bahan-bahan dapur untuk slametan rumah baru. Semua hadir memikat buat Newberry karena ia hadir. Saya teringat  kata Koenjoroningat, “penelitian berawal dari mata,” kata Koentjoroningrat begawan antropologi Indonesia.

Lalu bagaimana negara bisa masuklewat pintu belakang? Jan Newbwry menjelaskan, “pembentukan negara biasanya diartikan sebagai kemunculan untuk pertama kali negara sebagai sebuah bentuk politik dalam peradaban manusia. Dan mengingat kekuasaan politik dengan sistemnya adalah memastikan reproduksinya melalui kesedian (warga) untuk terus-menerus tunduk (Hal 11). Semua proses ketundukan itu adalah proses kebudayaan.

 

Jan Newberry berkisah mengenai rumahnya yang tak berpintu belakang. Baginya ketidaan pintu belakang telah memutus hubungan dengan tetangga bahkan negara. Semua itu  ia sadari ketika ia menerima seorang tamu.

“Di jawa,” kata Newberry, “Menerima tamu sangat ditekankan”

Saat Newbery merasakan tidak ada teh dan gula di rumah,ia memaparkan,

“ Saya minta kepada Mas Yoto, salah satu dari anak-anak yang selalu menemani kami di rumah, untuk pergi membeli gula, tanpa menyadari apa yang saya minta untuk dilakukannya. Baru ketika ia kembali dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan kantong gula tersembunyi di balik bajunya” (hal 16).

Dapur adalah ibu. Di sana ibu mempunyai sejarahnya. Jan memberikan penjelasan, “mungkin sejarah tentang ibu-ibu ini ada dalam resep-resep kue mereka, pola gerak mereka di dapur, tugas-tugas rumah tangga yang mereka lakukan setiap hari tanpa banyak bicara”  (hal 69).

Seorang Ibu Jawa akan sangat mengerti akan makna pintu belakang. Jan Newbwery mendapatkannya dalam slametan. Di sana peran ganda Jan Newberry sebagai peneliti dan ibu rumah tangga ditemukan saat slametan. Dalam slametan Jan Newberry disarankan oleh Bu Sae seorang tetangganya yang menginginkan slametan rumah barunnya Jan Newberry dilakukan di rumahnya karena mempunyai pintu belakang.

Mengutip Keeler (1990) dalam slametan  itu sendiri menandai perbedaan antara mereka yang berada di panggung dan dibalik tirai (hal 71)

Dalam slametan  satu dapur digunakan ramai-ramai oleh ibu-ibu untuk memasak untuk seperangkat  sajian untuk disuguhkan kepada orang banyak. Melihat rumah sebagai sebuah saluran juga mengalihkan pandangan kita dari bentuk rumah ke ruang-ruang di antara rumah yang satu dengan rumah yang lain, ke gang-gang kecil, dan ruang ruang terbuka untuk umum. (hal 116)

Di dalam rumah perempuan mempunyai makna progresif.

Seperti halnya dengan peran rumah kediaman bagi  masyarakat di bawah kekuasaan kaum penjajah dan bagi bangsa-bangsayang baru merdeka, perhimpunan-perhimpunan kaum perempuan untuk bertindak dengan wewenang penuh (177) . Dan memang ide perawatan rumah sosial oleh kaum perempuan ini tampaknya menjadi basis bagi kehidupan rumah tangga yang  didukung oleh Dharma Wanita dan PKK (hal 178).

Negara pun masuk dalam hak ini ingin membentuk ibu yang akan “membentuk sebuah keluarga sehat untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera”. Di sini mitos Orde baru bermain dalam citra “gerwani” yang mesti dilawan dihapuskan dengan kegiatan PKK dan Dharma Wanita.  Kehidupan sehari-hri di bawah naungan struktur perasaan yang dijalani oleh warga kampung dan ibu rumah tangga yang di dukung negaa inilah yang menghasilkan pembentukan sosial dan politik tertentu yang merupakan pertanyaan dan sekaligus jawaban atas bagaimana warga masyarakat dikelola sesuai dengan peraturan negara (212)

Jan Newberry mengatakan, “ibu-ibu mitra kerja saya di jawa mereproduksi Ibu-Ibu PKK, bahkan sementara peranan ini nyatanya tidak sesuai dengan perasaan  mereka atau dengan semua pengalaman mereka. Mereka lebih dari mampu untuk bersikap sinis mengenai peranan mereka dalam organisasi yang dikenal sebagi organisas “perempuan kurang kerjaan” (hal 236).

 

*Disampaikan pada Diskusi Buku Pustaka Kaji,  03 Desember 2015

**Pegiat diskusi di Pustaka Kaji