Sebuah Pesan untuk Tetap Meneliti*

Gustaf Geysbert Lontoh**

“You are capable of more than you know. Choose a goal that seems right for you and strive to be the best, however hard the path. Aim high. Behave honorably. Prepare to be alone at times, and to endure failure. Persist! The world needs all you can give.” (E. O. Wilson)

Dunia berkembang dengan cepat. Sejalan dengan hal tersebut, masyarakat dituntut untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan yang ada serta mengembangkan kemampuan dalam penelitian. Indonesia tidak terkecuali. Memperbesar jumlah ilmuwan bisa menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya saing dalam menghadapi tantangan baru di masa depan.

Menurut standar Bank Dunia, perbandingan ideal jumlah ilmuwan dan penduduk dalam suatu negara yakni 4000 hingga 5000 ilmuwan per satu juta penduduk[1]. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini sekitar 240 juta orang, maka seharusnya Indonesia memiliki minimal 1 juta orang ilmuwan. Pada kenyataannya, rasio yang dimiliki Indonesia hanyalah 90 ilmuwan per satu juta penduduk, jauh dibandingkan dengan Brasil (700), Rusia (3000), Korea (5900), dan Tiongkok (1020).[2]

Permasalahan tersebut diperpelik dengan kurangnya regenerasi dalam dunia penelitian. Persepsi generasi muda Indonesia yang melihat profesi ilmuwan sebagai pekerjaan yang sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Budaya masyarakat di negeri ini yang gemar menyematkan deretan titel akademis di depan atau di belakang nama kemudian membentuk anggapan bahwa untuk menjadi ilmuwan berarti yang bersangkutan minimal harus berpredikat doktor atau profesor. Hal ini kemudian menyebabkan banyak generasi muda Indonesia yang tidak memiliki cita-cita menjadi seorang ilmuwan.

Buku Letter to a Young Scientists menampik semua hal tersebut. Karya E. O. Wilson ini mengungkap banyak fakta menarik di balik dunia seorang ilmuwan sekaligus memberi banyak nasihat berarti bagi ilmuwan muda. Edward Osborne Wilson lahir 10 Juni 1929 di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat.  Seorang pemuda biasa yang aktif dalam kegiatan pramuka. Saat ini menjadi guru besar emeritus di Harvard University dengan spesialisasi di bidang entomologi (semut). Dua karyanya On Human Nature (1979) dan The Ants (1991) dinobatkan sebagai buku terbaik dalam Pulitzer Award.

Buku ini ditulis dengan gaya penulisan feature. Setiap bab ditulis sebagai surat. Dalam surat-surat ini, Wilson menggambarkan pengalamannya sebagai seorang ilmuwan sebagai contoh untuk orang-orang muda yang mungkin berpikir bahwa mereka tidak memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi seorang ilmuwan.

Selain itu, banyak nasihatnya yang bertentangan dengan persepsi yang terbentuk selama ini, diantaranya bahwa seorang ilmuwan harus memiliki kemampuan matematika yang kuat dan skor IQ pada tingkat jenius. Hal-hal ini, justu, menurut Wilson adalah tidak berguna, bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi penghalang untuk mencapai kesuksesan. Ia percaya, adalah bahwa seorang ilmuwan akan menemukan gairah dalam ilmu pengetahuan dan mengikuti hasrat mereka dengan kerja keras dan semangat.

Letter to a Young Scientists terbagi dalam dua puluh bab dalam lima bagian. Dalam bagian pertama (First Passion, Then Training) Wilson membahas pentingnya gairah sebelum pelatihan. Bab kedua (Mathematics) mungkin yang paling kontroversial. Dia berpendapat panjang lebar bahwa pemahaman dasar matematika adalah semua yang diperlukan, sehingga ilmuwan tidak seharusnya menyerah dalam meneliti karena mereka tidak bisa matematika. Jika topik penelitian membutuhkan tingkat keahlian matematika yang tinggi, solusinya adalah berkolaborasi dengan ahli matematika.

Sepanjang buku ini, Wilson memberikan sejumlah prinsip praktis, diantaranya adalah apa yang harus dilakukan dengan matematika. Prinsip pertama adalah: ‘It is far easier for scientists to acquire needed collaboration from mathematicians and statisticians than it is for mathematicians and statisticians to find scientists to make use of their equations‘ (Adalah jauh lebih mudah bagi ilmuwan untuk memperoleh kerjasama dengan matematikawan dan ahli statistik, daripada bagi matematikawan dan ahli statistik menemukan ilmuwan yang mau memanfaatkan persamaan mereka).

Bab berikutnya (The Path to Follow) berbicara mengenai ilmuwan muda yang cenderung fokus ke topik-topik besar dan sudah banyak diteliti. Wilson menyarankan bahwa ilmuwan muda seharusnya berkonsentrasi pada topik yang dikuasainya dan menjadi seorang ahli dunia terhadap topik tersebut, maka mereka akan diakui. Pendekatan ini ia dapatkan dari pengalamannya sendiri ketika meneliti tentang semut. Banyak hal yang Wilson temukan tentang semut dan hal tersebut adalah baru bagi ilmu pengetahuan saat itu.

Antusiasme dan ambisi yang ia miliki menjadi modal utamanya untuk terus meneliti sampai menjadi ilmuwan ternama saat ini. Kata Wilson, ‘March away from the sound of the guns. Observe the fray from a distance, and while you are at it, consider making your own fray.’ (Menjauhlah dari suara senjata. Amati keributan dari kejauhan, dan sementara Anda berada di itu, pertimbangkan untuk membuat keributan sendiri).

Bagian kedua (The Creative Process) banyak berkisah seputar karir dan pengalaman Wilson sebagai pengajar. Bab keenam (What it Takes) dan ketujuh (Most Likely to Succeed) membahas kualitas yang yang dibutuhkan dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak membutuhkan orang-orang yang jenius, katanya, melainkan orang-orang yang cerdas dan memandang ke depan. Bab delapan (I Never Changed) kembali menekankan pesan sebelumnya bahwa seorang ilmuwan harus tetap berpegang pada apa yang ia lakukan agar menjadi yang terbaik dalam bidang tersebut.

Bab-bab dalam bagian ketiga (A Life in Science) memeberikan detail terkait kerangka dari sebuah penelitian. Bab keempat belas (Know Your Subject, Thoroughly) menasihati ilmuwan muda untuk ‘bekerja dalam kesinambungan’ di bidang yang dipilih, terlebih menguasai seluruh aspek dalam bidang tersebut secara menyeluruh.

Dalam bagian keeempat (Theory and the Big Picture), Wilson melihat ‘Science as Universal Knowledge‘ dan ‘Searching for New Worlds on Earth‘. Bagian ini menunjukan bahwa ilmu bersifat tidak terbatas. Bahwa masih banyak objek penelitian yang belum diteliti dan merupakan tantangan bagi seorang ilmuwan baru untuk membuka hal-hal baru tersebut. Akhirnya, buku ini ditutup dengan nasihat seputar etika, integritas ilmiah, dan bagaimana ketika seorang ilmuwan menghadapi kegagalan.

Membandingkannya dengan kondisi di Indonesia, buku ini memberi gambaran jelas bagi generasi muda bagaimana seorang ilmuwan sebenarnya. Memang untuk menjadi ilmuwan tidaklah semudah mengedipkan mata pun membutuhkan waktu dan proses yang tidak lama. Namun disitulah bagaimana seorang ilmuwan diuji ketahanannya. Terkhusus untuk mahasiswa, yang ‘katanya’ menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi (baca: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat) adalah lebih baik untuk memberi kontribusi nyata bagi bangsa lewat penelitian. Seperti kata Plato, ‘Wise men speak because they have something to say; fools because they have to say something.

[1] Virna Setyorini, “Indonesia masih butuh 191.400 peneliti,” diakses dari http://www.antaranews.com/berita/430698/indonesia-masih-butuh-191400-peneliti pada 13 Januari 2016 pukul 18.00

[2] Icha Rastika, “Ini Perbandingan Jumlah Peneliti Indonesia dengan Negara Lain,” diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2015/08/27/10335481/Ini.Perbandingan.Jumlah.Peneliti.Indonesia.dengan.Negara.Lain pada 13 Januari 2016 pukul 18.01

 

*Disampaikan pada Diskusi Buku Pustaka Kaji,  15 Januari 2016

**Kadiv Penulisan LKM UNJ periode 2015-2016 dan Pegiat diskusi di Pustaka Kaji