Upaya Menafsirkan Citra Kota*

Annisa Dewanti Putri**

Manusia memiliki imajinasi terhadap ruang yang ia bentuk. Begitu pula ketika melihat dan membayangkan rupa suatu kota. Manusia, dalam perjumpaan dengan kota, telah memberikan bayang sendiri terhadap citra kota—semacam persepsi yang dibentuk dari wajah suau kota.

Kota, sebagai pusat, layaknya magnet yang menarik sekitarnya. Menjadikan ruang tak sebatas pencakar langit ataupun kepadatan sintetis semata. Inilah anggapan umum terhadap kota. Seakan kotak dan julangan tinggi bangunan berhasil menjadi sampul untuk setiap zona di wilayahnya. Masyarakat yang sudah tak lagi bertani dan berkebun. Bagaimana manusia melihat kota dalam kaca matanya?

The Image of the City, karya Kevin Lynch, telah menguraikan berbagai persepsi yang bisa ditarik oleh individu dalam membentuk citra dan rupa kota. Beberapa citra lingkungan pada kota  diantaranya terbentuk melalui legibiltas, persepsi, struktur, dan identitas.

Dengan legibilitas, membaca sensasi visual melalui warna, bentuk, suara, bau dan lainnya ditangkap oleh pengamat untuk membentuk citra lingkungannya. Selanjutnya, Identitas sebagai bentuk identifikasi terhadap suatu objek. Untuk struktur sendiri merupakan bagian pembentukan pola spasial dan relasi antara pengamat dengan ruang. Terakhir arti dan makna didapat secara praktis dan emosional oleh si pengamat kota.

Elemen Pembentuk Kota

Pada dasarnya, Kevin Lynch memaparkan pembentukan citra dan persepsi publik (imagibility) yang berpengaruh terhadap gambaran kota itu sendiri. Dalam kajiannya yang mengangkat studi kasus terhadap kota—Boston, Jersey, dan Los Angeles—Lynch menganalisis gambaran publik terhadap setiap kota tersebut.  Gambaran itu terbentuk dari lima komponen pembentuk citra kota: Paths (Jalan/akses), Edges  (Ujung/Batas), district (wilayah), node (titik simpang), dan landmark (Tanda wilayah).

Paths atau jalur menjelma menjadi elemen kota paling utama. Masyarakat berpikir terhadap kota melalui kondisi topografi, alur, luas, maupun jalur dari suatu wilayah. Pengamat yang memahami akan tahu jalur di kota secara tepat terkhusus pada hubungan antara jalur sepanjang jalannya. Elemen ini berbicara soal akses atau medium yang dilalui penghuni untuk menuju satu tempat ke tempat lainnya.

Manusia sebagai pengamat menjadikan jalan sebagai ruang dan akses untuk bergerak. Dalam hal ini akses (Paths) bisa berupa  trotoar, bahu jalan, jalan raya, halte, saluran, jalan tol, arteri, jalur bis, jalur sepeda, maupun jalur kereta. Bagi sebagian orang pengaruh jalan sangat erat dengan pembentukan persepsi kota tersebut. Maka tak salah, Marco Kusumawijaya juga pernah menuliskan bahwa nama jalan adalah salah satu kunci pembuka ke kedalaman pemahaman akan riwayat sebuah tempat dan kecenderungan orang menyanginya.

Edges atau ujung merupakan elemen lain pembentuk ingatan terhadap kota. Batas kota sebagai ujung daripada daerah administrasi menjadi elemen yang tidak diasumsikan sebagai jalan oleh sang pengamat. Hanyalah sebagai batas antara dua area/kota berbeda yang biasanya terpisahkan oleh dinding, batas administrasi, tepi pantai, sungai, pegunungan, jembatan layang, maupun hal lainya yang lazim digunakan sebagai batas. Batas (Edges) tidak menjadi dominan dalam pembentukan kesan terhadap kota, namun bisa menjadi tolok ukur untuk wilayah yang sedang diamati.

Batas ujung antara dua area menjadikannya erat dengan suatu pemisah. Sungai menjadi salah satu pemisah dua perbatasan, begitu pula dengan batas alam lainya yang secara jelas memisahkan dua ruang dalam kota tersebut. Apartheid Wall menjadi edges tersendiri di wilayah Israel. Seniman banyak menaruh mural bentuk protes pada dinding pembatas semacam ini. Danau toba di Medan menjadikannya sebagai elemen batas pada wilayah Sumatera Utara. Begitupula batas pada Benteng Vredeburg. Elemen ini yang akan memudahkan menggambarkan ruang pada peta melalui baris di setiap batasnya. Juga seringkali dijadikan medium untuk mengakomodasi seni dan menyalurkan aspirasi, berupa mural atau grafiti.

Berikutnya, Lynch membahas mengenai Districts atau wilayah bagian. Akibat perbedaan gambaran antara tiap wilayah bagian yang berbeda, maka wilayah menjadi elemen pembagi yang lebih spesifik untuk mempengaruhi pengamat dalam menilai suatu kota. Wilayah (District), bagi Lynch merupakan sebagian besar zona dari kota itu sendiri. Berada lebih spesifik ketika berada di jalan dalam wilayahnya membuahkan persepsi berbeda terhadap daerah itu. Pembagian terhadap satu kota menjadi beberapa wilayah menjadikan kesan terhadap kota dibentuk melalui bagian daripada wilayah itu sendiri meski secara keseluruhan, district itu sendiri sebagai bagian daripada kota.

Citra terhadap suatu wilayah di Jakarta sudah sangat mencolok dan mudah dicap. Semisal wilayah Condet sudah tergambar jelas masyarakat dengan dominasi betawi yang tampak melalui rumah tinggalnya. Sementara, BSD Serpong yang sudah didominasi dengan perumahan real estate dengan penghuni menengah keatas. Wilayah menteng juga sudah lama dicap oleh penduduk ibu kota sebagai wilayah elite sejak pertama kalinya (1960) perancangan ideal untuk penduduk Eropa dibuat khusus pada daerah ini dan Gondangdia. Citra kota sebagaimana Abidin Koesno deskripsikan, “Ciri kota taman pertama Indonesia tersebut tampak bersih, teratur dan dipenuhi pohon-pohon asri.”

Elemen penting lainya yaitu Nodes atau bisa disebut titik simpang. Dalam kenyataan yang sering kita temui, Nodes mewakili ujung atau poin-poin penting, pertigaan, perempatan dan ujung pertemuan lainnya. Mengapa Nodes menjadi salah satu elemen penting? Sebut saja Simpang Lima Gumul di Kediri dengan landmark menyerupai Arc De Triomphe. Di titik simpang ini keputusan pengendara atau pejalan kaki dalam memilih ruang singgah berupa wilayah berikutnya (Plosoklaten, Gampengrejo, Pare, Pagu dan Pesantren) terjadi secara terus menerus. Menurut Lynch, persimpangan tersebut adalah ruang dimana keputusan penting dilaksanakan terkait tujuan akhir dari jalan yang dipilih.

Elemen terakhir yang paling melekat pada simbol suatu kota  dan tak bisa dipisahkan dari pembentukan kesan kota ialah Landmark. Elemen ini biasa dijadikan simbol, tanda, maupun ciri dari riwayat kejadian kota. Landmark bisa terbentuk dari beragam tanda, huruf pada toko, monumen, pohon, pintu, patung, tugu, maupun bangunan megah sekalipun. Hal ini yang akan paling memberikan kesan dan makna kota terhadap pengamat.

Di Jakarta sendiri memiliki Monas, maupun Patung Dirgantara sebagai bagian daripada Landmark kota. Kota Padang pun memiliki Jam Gadang  sebagai ciri dalam setiap gambarannya. Maka tak heran, dalam segi pariwisata, masyarakat cenderung menggunakan gambaran Landmark untuk diperjualbelikan dalam branding wilayahnya. Baik kota Amerika yang memiliki Patung Liberty yang selalu tertempel di setiap kaos, maupun Candi Borobudur yang dijadikan asbak sebagai cinderamata. Peran Landmark disini amat membentuk persepsi masyarakat, mewakili sejarah yang pernah ada.

Elemen sederhana ini bisa nampak besar secara skala, mewakili apa yang paling mudah diingat pada kota. Karena spesialisasi dan keunikan maka landmark kerap kali dijadikan simbol wisata kota. Elemen ini menjadi mencolok karena kemudahan dalam mengidentifikasi suatu kota yang diwakili melalui bentuk konkritnya sendiri. Selain itu, berawal dari tujuan awal elemen ini sebagai refleksi sejarah dan orientasi kota, maka landmark menjadi penting dalam keberadaanya.

The Three Cities (Boston, Jersey, dan Los Angeles)

The Images of the City, karya Kevin Lynch, mengangkat tiga kota (Boston, Jersey, dan Los Angles) sebagai pilot project dalam menilik citra kota berdasarkan elemen-elemen pembentuknya. Dengan membandingkan ketiga kota Amerika tersebut, masyarakat menyesuaikan lingkungan sekitar dan mengidentifikasinya secara singkat pandangan langsung terhadap kota.

Boston, sebagai salah satu kota di Massachussetts digambarkan secara keseluruhan sebagai kota yang hidup dengan penuh lokasi yang sulit. Menurut Lynch, The Beacon Hill sebagai bagian dari wilayah Boston memiliki ciri dan citra wilayah dengan jalur yang sempit, tembok dengan bata merah tua, rumah berjejer, pintu putih, dengan penghuni menengah ke atas. Dengan begitu pengamat kota Boston didominasi oleh deskripsi terhadap Beacon Hill sebagai bagian dari wilayahnya.

Sementara, Jersey City yang terletak di New Jersey merupakan kota dengan bentuk nyata. Dalam bukunya, Lynch mengangkat kota Jersey City dengan pengamatnya yang mendeskripsikan kota tersebut melalui Terowongan Holland sebagai bagian dari elemen Jalur (Paths). Bayangan Terowongan Holland bagi pengamat sangat mendominasi sebagai jalur penghubung antara dua daerah berbeda di kota Jersey.

Los Angeles, kota bagian dari California menjadi pembanding untuk kota yang baru. Dengan contoh yang disampaikan Lynch melalui elemen ini, jalur begitu digunakan masyarakat untuk mendeskripsikan kota. Di Los Angeles, jalan Broadway dikenali masyarakat secara berbeda. Jalan sudah lama dikenal masyarakat tersebut sebagai wilayah padat dibandingkan Jalur atau jalan lainnya. Karakteristik ruang dalam jalur yang berkualitas akan memperkuat ingatan maupun citra terkait kota.

Mengapa Citra Kota?

Sebagaimana kota untuk tempat tinggal, kota juga sebagai kendaraan yang memerlukan arah dan orientasi yang jelas bagi pengamat dan penghuninya. Marco Kusumawijaya pernah membahas soal Urbanitas Indonesia sebagai sebuah proyek yang berjalan tanpa cetak biru. Elemen-elemen pembentuk kota seharusnya bukan hanya sebuah kebutuhan ekonomi, apalagi jangka pendek, namun juga pilihan yang bersifat sosiokultural juga.

Meski, pada dasarnya Urban Branding sebagaimana dijelaskan oleh Dominic Power, menjadi bagian hasil yang penting untuk ekonomi kota dalam pemanfaatan citra kota sendiri. Bagian dari alasan peningkatan citra kota sebagai membentuk  strategi kompetisi pada ekonomi global. Musium Guggenheim di Bilbao, menjadi salah satu landmark diantaranya yang telah memberikan efek ekonomi sebesar US140 juta per tahun.

Berikutnya, citra kota akan memberikan pemaknaan tersendiri terhadap pengamatnya. Sebagaimana Marco Kusumawijaya mengatakan bahwa Makna adalah suatu lompatan nilai: dari sesuatu yang tak berarti kecuali untuk mendukung eksistensi “yang lain,” menjadi sesuatu yang memiliki kehadirannya sendiri.

Eko Laksono dalam Universalis Metropolis mengatakan bahwa untuk mencapai kota yang unggul dan bermakna tersebut bisa dilakukan melalui banyak konsep dan strategi kota unggul yang bisa digunakan. Konsep tersebut diantaranya sebagai utopian city, renaissance city, cultural city, smart city, dst. Semua konsep itu tentunya dapat terbentuk melalui lima elemen pembentuk citra kota.

Secara garis besar, Kevin Lynch telah berhasil menguraikan lima elemen pembentuk citra kota ke dalam deskripsi diantara tiga contoh kota yang dijadikan objek pengamatnya. Meski terbilang cukup singkat, penggambaran secara langsung terhadap elemen-elemen kota untuk ketiga kota cukup kompleks secara deskripsi.

 

*Disampaikan pada Diskusi Buku Pustaka Kaji, Jumat, 22 Januari 2016

**Alumni Teknik Sipil UNJ, Pegiat diskusi di Pustaka Kaji

 

Referensi:

[1] Kusno, Abidin. 2012. Zaman Baru Generasi Modernis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

[2] Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

[3] Laksono, Eko. 2013. Universalis Metropolis. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

[4] Lynch, Kevin. 1960. The Image of the City. London: The Massachusets  Institute of Science and Technology Press.

[5] Power, Dominic. 2006. “Urban Branding as Constructed Capabilities in Nordic City Regions.” Norway: Nordic Innovation Centre.

[6] Tim Penulis LKM UNJ. 2014. Landmark Jakarta: Relasi Sosial dan Ruang Publik. Jakarta: Pustaka Kaji.