Jejak Kelam Raffles di Jawa*

Muhammad Khambali**

Dia adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Patungnya berdiri gagah di panggung putih dekat sungai di depan tiang-tiang krem Victoria Theatre. Patung jangkung itu didirikan pada 1919 untuk mengenang Raffles sang pahlawan, sang pelopor bagi Singapura. Di Negeri Singa tersebut, namanya dipuja serta disematkan menjadi nama hotel, sekolah, dan apartemen ternama. Meski demikian, dalam hampir setiap catatan sejarah, biografi, dan kisah tentangnya, Raffles sebenarnya adalah figur yang penuh kontroversi.

Raffles digambarkan sebagai pahlawan sekaligus penjahat kolonialisme Eropa yang arogan. Dan salah satu bagian dari petualangan Raffles di timur Asia yang paling memicu perdebatan adalah ketika dia ditunjuk menjadi letnan gubernur dalam invasi Inggris ke Jawa dari 1911 sampai 1916. Secara memikat, petualangan Raffles di Tanah Jawa selama kurun lima tahun tersebut diceritakan oleh Tim Hanningan dalam bukunya yang berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa.

Ketika pertama kali tiba di Jawa, Raffles baru berusia tiga puluh tahun. Lord Minto, gubernur jenderal wilayah kekuasaan perusahaan Hindia Timur (The East India Company), memilih seseorang yang berhenti bersekolah di usia 14 tahun, berlatar belakang keluarga kelas bawah, dan tidak memiliki pengalaman militer. Seseorang yang sebelumnya menjadi juru tulis di Penang tiba-tiba ditunjuk menjadi penguasa Jawa.

Ketika Raffles melakukan invasi ke Jawa pada 1811, Inggris sebenarnya tidak betul-betul menginginkan Jawa. Instruksi yang dikeluarkan para direktur perusahaan Hindia Timur di Leadenhall Street sebatas mengusir Belanda dari Tanah Jawa, lalu menyerahkan Jawa ke penguasa pribumi. Alasannya jelas murni keuangan: Jawa saat itu dipandang tidak menjanjikan keuntungan (hlm 59-60).

Namun tidak demikian dengan Raffles. Ia datang dan menaklukkan Jawa dengan penuh ambisi. Baginya, mengusir Belanda kemudian mundur bukanlah cara Inggris. Dia berhasil meyakinkan Lord Minto, dan instruksi pun kemudian tak diabaikan. Raffles punya impian besar untuk mengubah Jawa.

Hal pertama yang Raffles lakukan adalah menundukkan dua kekuatan besar di Jawa, kerajaan kembar pecahan Mataram dengan seorang sultan di Yogyakarta dan seorang susuhunan di Surakarta. Keberadaan sepasang raja yang saling cemburu dapat mengganggu reformasi besar dan berpotensi antagonis bagi pemerintahan Inggris. Dan yang terpenting, Raffles ingin mendapat ketundukan mutlak dari Jawa.

Apalagi, ketika kunjungan pertama kali Raffles ke istana Sultan Yogyakarta, Raffles merasa direndahkan dalam pengaturan tempat duduk pada saat jamuan. Sultan dengan sengaja mengatur tempat duduk dengan menempatkan Raffles dalam posisi lebih rendah. Tentu saja, bagi Raffles, ini merupakan penghinaan yang paling kurang ajar (hlm 141-142).

Maka, dimulailah episode imperialisme Inggris ala Raffles. Ia memberi instruksi kepada Kolonel Gillespie dan tentara Inggris untuk menyerang, menaklukkan, dan menghancurkan Keraton Yogyakarta. Raffles hanya berada di garis belakang menyaksikan pertempuran. Pertumpahan darah kemenangan Inggris atas Jawa tersebut digambarkan secara dramatis.

Sultan dari istananya digiring ke benteng Inggris. Lalu terjadi drama direndahkannya seorang sultan penguasa Jawa yang berlutut di kaki Raffles. Selama dua abad, tidak ada anggota keluarga kerajaan Jawa yang pernah melakukan tindakan memalukan seperti itu: menyembah seorang Eropa, apalagi dipaksa dengan kasar melakukannya (hlm. 226).

Setelah itu, pelbagai perubahan dimulai dan dilakukan dengan banyak catatan hitam. Salah satu catatan sejarah yang selama ini dihilangkan adalah keterlibatan Raffles dalam tragedi pembunuhan 86 orang Belanda di Sungai Musi. Raffles berperan dalam mengirim surat dan berkorespondensi membujuk Sultan Badaruddin Palembang untuk “mengusir” Belanda dari Palembang (hlm. 150).

Dalam lima tahun, Raffles tidak seberhasil yang selama ini dicatut dalam buku-buku sejarah. Pemerintah berantakan, dokumen-dokumen tak berguna menumpuk di kantornya, di Buitenzorg (kini Bogor). Pembukuan keuangannya ceroboh, dan sebagian besar perkiraan anggaran tampaknya didasari fantasi. Kekacauan terbesar di antara semuanya adalah sistem sewa tanah. Laporan sistem sewa tanah Raffles sangat jauh dari realitas (hlm. 365). Di akhir masa kekuasaannya, Raffles diburu fitnah melakukan korupsi dan berbagai tuduhan buruk. Dia pun dipecat sebelum penyerahan Hindia kembali ke Belanda.

Namun sejarah selalu ditulis pemenang. Bagi Tim Hanningan, Raffles berhasil “membersihkan namanya” dan memperoleh gelar bangsawan dengan menerbitkan buku The History of Java. Juga lewat biografi yang ditulis istri keduanya, Sophia, dan jurnal yang ditulis ajudan setianya, Thomas Travers. Tim Hanningan menyatakan hal itu sebagai kebohongan sejarah yang memalukan. The History of Java hanya praktek besar plagiarisme. Raffles menjiplak catatan dan naskah Belanda yang ia temukan di perpustakaan Buitenzorg (hlm. 249).

Membaca buku setebal 419 halaman ini terungkap sisi lain Raffles ketika dia berkuasa di Jawa dua abad silam. Ada tragedi dan kematian, kebencian dan kemunafikan, serta sejumlah kegagalan. Berbekal arsip yang tersimpan di British Library, sebuah catatan sejarah ditulis oleh Tim Hannigan dengan gaya naratif yang mengesankan.

Menariknya, buku ini, ketika pertama kali terbit pada 2012 dalam bahasa Inggris, berbarengan dengan buku biografi tentang Raffles oleh penulis kenamaan, Victoria Glindinging, berjudul Raffles and The Golden Opportunity. Berbeda dengan Victoria Glindinging yang menggambarkan sosok Raffles secara simpatik, Tim Hanningan mencoba mengungkapkan pelbagai jejak kelam Raffles di Jawa yang selama ini seolah sengaja dihilangkan dalam catatan biografi hidupnya.

*Pernah dimuat Tempo, Sabtu, 26 Desember 2015

**Pegiat di Pustaka Kaji, Jakarta. Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ).