Menelusuri Lahirnya Hallyu Korea*

Muhammad Khambali**

“Korea sama sekali tidak keren pada 1985.” Demikianlah kalimat pembuka dalam buku yang ditulis Euny Hong ini. Pada tahun tersebut, Hongyang ketika itu baru berusia 12 tahun–bersama orang tuanya kembali ke Seoul setelah lama tinggal di Amerika.

Sekarang, Korea (baca: Korea Selatan) melalui gelombang budaya populernya atau yang dikenal sebagai “Hallyu”, telah menjelma menjadi sebuah fenomena yang digandrungi sekaligus menyedot perhatian seluruh dunia. Dalam hanya waktu puluhan tahun, Korea mengalami perubahan yang baru dicapai kebanyakan negara maju setelah ratusan tahun. K-Pop, drama, film, video game, dan makanan cepat saji Korea telah mendominasi wilayah budaya Asia, bahkan semakin moncer di Eropa dan Amerika. Dengan tak merasa berlebihan, Hong mengatakan, “Hallyu adalah peralihan paradigma budaya tercepat dan terbesar dalam sejarah modern.”

Secara memikatditulis dengan gaya bahasa yang ringan tapi tajam, anekdot yang cerdas, dalam esai berselera humor yang dipadu dengan pengalaman pribadi dan kerja jurnalistikbagaimana budaya Pop Korea tersebut lahir diceritakan dalam bukunya yang berjudul Korean Cool. Tumbuh besar di Chicago, Hong sempurna memahami Korea yang kompleks secara obyektif tapi juga sinis. Ia mengajak kita (pembaca dari luar Korea) menelusuri apa sebenarnya di balik ledakan Korean Wave tersebut.

Seperti yang dikatakan Hong, Korea pada 1985 adalah sebuah negara berkembang yang dapat dikatakan memprihatinkan. Padahal ia tinggal di Gangnam, distrik paling elite di Seoul. Hong berkisah tentang lift apartemennya yang sering rusak, kehabisan dan pemutusan aliran air biasa terjadi. Teknologi Korea terkenal sangat buruk pada masa itu. Hong seperti mengalami kaget budaya. Tak seperti di Amerika, kondisi toilet Korea pada tahun 1985, “ya ampun”, kata Hong, yang tercengang menemukan toilet jongkok yang jorok karena cekungan buang airnya tidak bisa disiram.

Lalu bagaimana Korea bisa berubah begitu drastis hanya dalam tiga dekade? Menurut Hong, setiap perubahan yang dialami bangsa maju lahir dari ironi. Korea sejak akhir tahun 1980-an sampai awal 1990-an mengalami pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat tajam. Hong menyaksikan transformasi Seoul dari tempat yang kumuh, sesak, dan berbahaya, menjadi kota besar global yang kaya penuh ironi. Orang-orang berpakaian sangat mewah, tapi masih nongkrong di tempat parkir karena Seoul tidak memiliki ruang publik yang cukup (Halaman 13-14).

Ambisi lahir dari kebutuhan. Ketika krisis ekonomi melanda Asia pada akhir 1990-an, justru itu menjadi titik balik Korea. Kebutuhan untuk utang, yang menghentikan banyak ekspor, memaksa industri Korea berpikir di luar kebiasaan untuk menutupi kerugian. Bagi Hong, “Kalau bukan krisis itu, mungkin tak akan pernah ada Korean Wave” (Halaman 92). Sebelum krisis, dunia hiburan Korea tidak melakukan usaha agresif apa pun untuk menjual produknya di luar negeri. Namun, dalam keadaan terpojok, para pelaku industri hiburan memutuskan harus menjual film, pertunjukan televisi, dan musik mereka ke seluruh Asia. Di tengah krisis, Korea melakukan pertaruhan besar dan nyaris tidak waras dengan menjadikan industri teknologi informasi dan budaya populer sebagai prioritas ekonomi.

Saat ini, Korea telah melakukan invasi budaya yang dapat dikatakan mengagumkan. Namun kecanduan global atas Hallyu tidak mungkin dicapai apabila tanpa campur tangan pemerintah dan kerja sama swasta. Pemerintah, misalnya, sibuk memasang jaringan Internet cepat dan infrastruktur, mengucurkan lebih dari 25 persen dari keseluruhan modal perusahaan di Korea, dan bantuan diplomasi untuk “menyelundupkan” musik dan drama Korea ke berbagai negara. Sedangkan perusahaan swasta juga melakukan investasi yang sangat berani. Sebuah perusahaan musik Korea rela menghabiskan sampai tujuh tahun untuk menyiapkan bintang K-Pop masa depan.

Membaca buku ini kita akan menyadari Hallyu sama sekali bukan kebetulan. Melainkan kombinasi antara disiplin, kerja keras, persaingan, rasa malu, sekaligus kepercayaan konfusianisme yang secara kultural melekat dalam diri orang Korea. Identitas dan etiket tersebut tanpa disadari terbentuk di antaranya dari metode “seni pukulan” di sekolah, intimidasi ujian masuk universitas, dan doktrin superioritas kompleks oleh pemerintah terhadap “saudara” komunis, Korea Utara.

Menariknya, Euny Hong berpendapat, terlepas faktor ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik, ambisi Korea didorong oleh kebencian yang berlatar historis. Ada “kemarahan” yang secara kultural oleh orang Korea disebut Han. Dan salah satu Han yang dimiliki orang Korea adalah kebencian terhadap Jepang. Dendam tersebut telah berlangsung 600 tahun dan terakhir akibat Jepang menjajah Korea pada 1910 sampai 1945. Dalam hubungannya dengan gelombang Hallyu, sesungguhnya dorongan dan motivasi mereka muncul dari keinginan untuk mengalahkan Jepang dalam hal apa pun. Akhir 1990-an, Samsung menetapkan raksasa elektronik Jepang, Sony, sebagai perusahaan yang harus dikalahkan (Halaman 59).

Euny Hong adalah seorang jurnalis dan penulis. Buku Korean Cool ini bukanlah sebuah telaah ilmiah yang ketat dan mendalam mengenai kajian budaya populer Korea. Tetapi cukup membuat kita memahami kebangkitan Korea dari bangsa yang “dihukum” takdir dijajah bangsa lain selama 5.000 tahun, menjadi bangsa yang “keren” sekaligus tengah menaklukkan dunia lewat budaya populernya.

Saat orang mendengarkan K-Pop, mereka membeli gaya hidup. Hallyu merupakan strategi ekonomi menjual gaya hidup. Hallyu lebih dari sekadar K-Pop. Ibarat menu makan, Hallyu Korea seperti sebuah paket komplet. “Belum pernah ada yang mencoba membuat campuran terpadu yang mencakup semua hal, dari produk teknologi sampai musik, video, dan konten daring. Ini serangan menyeluruh ke perbatasan asing” (Halaman 216). Kini, Hallyu adalah tembakan yang terdengar di seluruh dunia.

*dimuat di Koran Tempo, edisi akhir pekan 2-3 April 2016

**Pegiat diskusi di Pustaka kaji, Jakarta.