Filsafat Dan Nalar Revolusi*

Tengku Andyka**

Filsafat ada bukan sebagai benda padat. Filsafat itu seperti udara mampu memberi nafas untuk semua sesuai kapasitas pribadi. Buku ini mencoba menjawab kegelisahan manusia dalam memaknai hidup melalui filsafat sebagai revolusi pribadi.

Filsafat pada hakikatnya adalah suatu bentuk revolusi. Tidak hanya mempertanyakan, tetapi berusaha mengajukan pemikiran sebagai jawaban. Namun, jawaban pun tidak akan pernah mutlak,  selalu dan terus dipertanyakan kembali sebagai jawaban baru yang dianggap lebih pas dari jawaban sebelumnya.

Revolusi adalah bentuk perubahan yang disadari, terjadi secara cepat dan mendasar. Revolusi tidak harus bersifat besar seperti revolusi dalam bidang industri, politik, ekonomi dan seterusnya. Revolusi sederhana melalui revolusi cara berfikir, revolusi cara berbahasa, dan revolusi cara bertindak bagian penting  keutamaan hidup.

Buku setebal 305 halaman ini mendekatkan kembali filsafat dalam keseharian hidup yang sederhana. Ada banyak perspektif tema revolusi dibahas dalam buku ini. Seperti revolusi atas cara pandang manusia hidup dalam dunia yang selalu tidak cukup. Selalu banyak kata dalam bentuk yang kurang. Keinginan yang tak pernah cukup, gaji yang tak pernah mencukupi, waktu yang selalu kurang dalam keluarga dan orang yang kita cintai dan seterusnya.

Thomas Metzinger, filsuf dan ilmuwan neurosains asal Jerman, menulis bahwa apa yang kita tangkap dengan pikiran hanyalah sebagian kecil dari kekayaan realitas yang ada. Dengan kata lain, pikiran kita tidak cukup untuk menangkap keluasan kenyataan yang ada. Kenyataan dan realitas sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa kita tangkap dan pahami dengan pikiran kita.(Halaman 83)

Slavoj Zizek, filsuf asal Slovenia, pernah menjadi salah satu pembicara seminar di AS. Setelah dibacakan riwayat hidupnya yang panjang dan penuh dengan karya-karya besar, ia berkata, “siapa itu? Saya tidak kenal orang itu.” Ia menegaskan bahwa riwayat hidup seseorang tidak pernah cukup untuk menggambarkan jati diri seseorang. Identitas, apalagi identitas legal formal, tidak pernah cukup menggambarkan kekayaan sekaligus keunikan diri seseorang. (Halaman 84)

Misalnya, banyak indikator perkembangan statistik Indonesia menunjukkan, bahwa ekonomi kita berkembang. Namun, statistik dan indikator tersebut hanyalah rumusan yang tentu saja tidak akan pernah mampu menangkap kenyataan yang ada, yang sebenarnya penuh dengan kemiskinan, penderitaan, dan kesenjangan sosial yang amat besar antara si kaya dan si miskin di Indonesia. Sekali lagi, rumusan, konsep, teori, dan data tidak akan pernah cukup menggambarkan kenyataan yang ada.

Seseorang siswa mendapatkan nilai rendah dalam ujiannya. Padahal, ia telah belajar dengan keras. Nilai-nilai sebelumnya juga baik. Hanya saja, ketika ujian akhir datang, ia merasa gugup, dan tak mampu mengerjakan soal-soal dengan tenang. Akhirnya, nilainya rendah dan ia pun gagal dalam ujian akhirnya. Hasil ujian tidak pernah bisa menangkap usaha belajar seseorang. Nilai tidak pernah cukup menandakan kerja keras seseorang murid. Inilah yang harus disadari oleh semua pendidik di Indonesia. Proses belajar merupakan proses berkelanjutan dan dinamis, tidak akan pernah bsia dipahami hanya dengan melihat nilai. (Halaman 85)

Pada akhirnya, manusia harus belajar untuk memahami “apa yang tidak cukup” dalam hidup. Didalam hidup yang begitu kaya dan dinamis, “kesadaran akan ketidakcukupan” adalah suatu bentuk kebijaksanaan. Hidup memang selalu kurang, namun mungkin saja bukan hidup yang kurang melainkan diri kita sendiri sebagai manusia yang juga kurang.

Revolusi berikutnya adalah revolusi atas pola hidup antri. Antrian bukan hanya dalam menunggu tiket, atau menunggu angkutan umum saja. Ada perspektif hidup yang luas dalam memahami antrian. Filosofi mengantri adalah bersabar dan menunggu. Dalam hidup, orang pun juga perlu untuk sabar. Ia perlu menunggu, kapan gilirannya untuk maju tiba, sambil mempersilahkan orang yang ada terlebih dahulu untuk maju. (Halaman 201)

Antri adalah tanda kemampuan manusia untuk berproses. Untuk menjadi pintar dan sukses, orang perlu berproses dengan belajar dan berusaha. Orang yang tidak mau berproses, maunya cepat pintar dan cepat kaya, biasanya terjebak dalam korupsi, dan merugikan banyak orang dengan tindakannya.

Sikap antri dari luar memang terlihat sederhana. Orang – orang menunggu untuk melakukan sesuatu, tanpa menyerobot satu sama lain. Namun, sikap ini jelas mencerminkan penghayatan hidup yang mendalam. Sikap ini cerminan keutamaan hidup yang mutlak diperlukan jika kita mau hidup bersama.

Gagasan sederhana, mengingatkan kembali pada sesuatu yang tak pernah selesai. Sudah saat nya menafsir ulang revolusi dalam persepktif hidup.

*Disampaikan pada kajian malam Pustaka Kajia, Jumat 29 April 2016

** Pegiat Diskusi di Pustaka Kaji