Permacutlure Design: Hidup Bersama Alam*

Annisa Dewanti Putri**

Frank Lloyd Wright tak pernah hentinya membuat kagum pengunjung. Rumah kecil yang diselingi dengan kicauan dahan dan burung diantara arsitekturnya. Aliran air memotong antara rumah epic yang berdiri kokoh di antara rerimbunan hutan. Dari Falling Water, kita bisa tengok bahwa seyogyanya manusia tak pernah bosan untuk memisahkan dirinya dari alam. Manusia rindu akan percikan air, kehidupan sesungguhnya sebelum teknologi benar-benar merubah gaya hidup disekitar lingkungan homo sapiens.

Disamping tempat tinggal yang lekat dengan alam, ada sebuah konsep yang berusaha mempertahankan keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Konsep inilah yang disebut dengan Permcaulture Design atau Permanent Agriculture Design. Konsep asal dari negara Australia dan Timor Leste ini tak lepas daripada bagaimana menciptakan suatu lingkungan tempat tinggal alami dengan tak melupakan alam sebagai komponen utama yang mendukung keberlanjutan kehidupan di ruang tinggal tersebut.

Lachlan Mckenzie dan Ego Lemos mengulas konsep kehidupan Permakultur secara gamblang melalui bukunya berjudul A Permaculture Guidebook from East Timor. Kemandirian terhadap pasokan makanan, tempat tinggal, ketahanan lingkungan, budaya maupun perlindungan komunitas menjadi bagian dari dijalankannya sebuah Permcaulture dengan mengedepankan tiga prinsip yakni tanah, manusia, dan masa depan. Keyakinan para pelaksana permaculture akan bencana alam yang kerap terjadi karena pola hidup manusia yang sudah tidak kembali lagi pada alam.

Permaculture bisa diartikan menjadi dua yaitu Permanent Agriculture dan Permanent Culture. Permanent agriculture lebih mengedapankan soal pengelolaan alam dan binatang terhadap hasil pertanian dimana tetap mengedepankan aspek keberlanjutan. Sementara Permanent Culture lebih kepada pendekatan pengelolaan tanah bersama manusia lainnya dengan mengedepankan kerja sama, perlindungan, dan tanpa kompetisi antara sesama. Semua pengelolaan ini tentunya melingkupi rumah, kesehatan, manajemen keairan, sanitasi, hasil tani, hasil kelola hutan, hewan dan lainnya.

Buku ini membagi pembahasan konsep dan penerapan desain permakultur tersebut kedalam tiga belas bab. Dimana sebagian besar bab memang lebih mengarah kepada hal teknis menyoal bagaimana pola penerapan permakultur pada kehidupan masyarakat. Ketika berbicara soal Kuidada Ba Futuru atau peduli dengan Masa depan, melalui prinsip ini permakultur mengedepankan bahwa Pendidikan adalah yang paling penting dalam menjaga proses ini. Begitupun menyoal konservasi, penerapan aturan dasar harus memiliki fungsi ganda atau lebih dalam penggunaannya, semisal penggunaan sisa kayu perangkat untuk dibakar dan di daur ulang menjadi manure, sebagai pupuk kualitas tinggi.

Pengelolaan secara permakultur tak hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan untuk lingkungan sendiri. Mckenzie dan Lemos telah membahasnya dalam bab keenam mengenai kebun dan pasar. Bumi Langit di Sleman (Yogyakarta) telah menerapkan hal ini melalui rumah makan bernama Warung Bumi. Hasil perkebunan dari konsep permakultur disana dijual dan diolah menjadi beberapa menu oleh keluarga Bapak Iskandar sejak tahun 2000. Meski penerapan permakultur secara tidak langsung sudah melekat lama pada lingkungan pertanian di Indonesia, namun tempat ini menjadi salah satu permakultur percontohan yang berhasil di terapkan dan dijadikan zona edukasi permakultur di Indonesia. Setidaknya dalam perihal pertanian organik seacara lahan dan keadaan tanah, Indonesia sudah memiliki potensi yang cukup besar.

Mckenzie dan Lemos telah membahas keseluruhan konsep permakultur melalui teknik, strategi, dan desain. Teknik-teknik permakultur bisa menjadi penting dalam penanganan resiko bencana seperti: kebakaran, kehabisan makanan, erosi, longsor, dll. Semua teknik tersebut diulas dalam dua belas bagian pada buku tersebut. Melalui pengelolaan pertanian, peternakan, perikanan, maupun hasil kebun secara berkelanjutan menjadikan konsep permakultur unggul dalam memperhatikan unsur keterlibatan alam. Dengan lebih mengedapankan solusi daripada masalah, uraian mengenai permakultur bagi Lechlan perlu diselesaikan berdasrakan solusi. Jika perlu, setiap elemen dari Permakultur memiliki fungsi ganda dalam penerapannya.

Kembali pada Alam

Joan Miro dalam bersatu dengan alam juga menuangkannya dalam setiap karya sebagaimana dalam lukisan The Farm House (1921-1922). Hubungan keseimbangan antara petani dengan tanahnya selalu berada secara sirkular. Dalam rancangan program urban Sert-Miro, mereka coba membuat koherensi antara beberapa elemen yang terlibat sekitar, baik rumah, lalu lintas, alam, dan manusia, semua adalah agar terjadi keseimbangan secara sirkular. Pada praktiknya semi Permacutlture disini dituangkan juga prinsipnya dalam gaya perencanaan ruang. Meski di lingkungan urban, Sert-Miro berusaha untuk tidak mengganggu alam yang ada di sela ruangnya.

Jika berbicara lanjut soal alam, Sonny Keraf memiliki pandangannya sendiri soal hak asasi yang dimiliki oleh alam. Ketika mengakui komunitas biotis maaupun ekologis sebagai bagian dari komunitas moral sebagaimana diklaim oleh biosentrisme maupun ekosentrisme, maka muncullah pertanyaan terkait Hak asasi alam yang perlu diperjuangkan. Teori Antroposentrisme dimana manusia sebagai pusat dijadikan teori akhir yang dipakai dalam etika lingkungan hidup. Permakultur telah mengarah pada ekosentrisme tersebut dimana semua lingkungan adalah pusat.

Jostein Gaarder dalam novelnya berjudul Dunia Anna juga pernah memperkenalkan prinsip ‘resiprositas’ bahwasanya hubungan timbal balik itu perlu selalu ada untuk menjaga keseimbangan terkhusus keseimbangan alam. Ia telah katakan “Perlakukanlah orang lain sebagaimana ingin diperlakukan.” Manusia dipaksa untuk menyadari bahwa hubungan timbal balik itu ada baik untuk lingkungan vertikal maupun horizontal. Dalam hal ini hubungan horizontal berkaitan dengan generasi berikutnya atau cucu buyut kita saat kita tinggalkan warisan yang ada di bumi. Sementara hubungan horizontal berlaku untuk dampak dan hubungan pada lingkungan sekitar saat itu. Tidak jauh berbeda dengan pernyataan Lechlan soal bagian dari oada etika tersebut dengan kepedulian terhadap lahan, manusia dan masa depan.

Dari buku Fukuoka, The One Straw Revolution , konsep filosofi permakultur didapatkan oleh Bill Mollison sebagai salah satu ahli dan penggagas permakultur. Secara keseluruhan menggambarkan filosofi bahwa alam seharusnya di ajak untuk bekerja sama tanpa perlu diinvasi. Diilustrasikan sebagaimana dilakukan antara seorang suku Aborigin yang memerah susu sapi dan merawat sapinya kembali, dibandingkan dengan sang pembajak yang memerah susu sapi secara paksa kemudian mengurungnya dan membiarkan hingga mati kelaparan. Semua prinsip permakultur adalah mendapatkan dari alam dan menjaganya untuk alam.

Permakultur memang berprinsip untuk kembali pada alam, namun dalam praktik, teknologi tetap tak terlepas dari proses kegiatan. Mckenzie membahasanya dalam bab dua belas bahwa teknologi baru memang diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup. Penggunaan ini diperbolehkan dalam permakultur hanya untuk teknologi tertentu yang sifatnya berkelanjutan. Misal penggunaan penanak nasi dengan solar, ram pump untuk memompa air atau penggunaan coolgardie semacam kulkas untuk melindungi makanan dari binatang pula. Pertimbangan akan dampak negatif dan positif terhadap lingkungan permakultur ini yang menentukan apakah teknologi itu boleh diterapkan atau tidak.

Secara garis besar, menghubungkan alam dengan manusia dan komunitas teramat ditekankan pada bab terakhir oleh Mckenzie dan Ego Lemos. Melalui komunitas, permakultur tetap membuka diri untuk perihal ekonomi dan pertukaran barang antar komunitas dan kelompok. Artinya, sistem ini tetap tidak bisa dipisahkan dengan komunitas luar sepenuhnya. Hanya, alam menjadi bagian daripada cara dan solusi untuk mengatasi masalah sekarang ini.

Referensi Bacaan:

[1] Mckenzie, Lachlan dan Lemos, Ego. 2008. A Permaculture Guide Book From East Timor. Dilli: Permatil-TL.

[2] Nurhidayati, dkk. 2008. Pertanian Organik: Suatu Kajian Sistem Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan. Malang: Penerbit Universitas Brawijaya.

[3] Keraf, A. Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

[4] Mollison, Bill. 1979. Permaculture Two: Practical Design of Town and Country and Further Theory in Permanent Agriculture. Tasmania: Tagari Books.

 

*Tulisan disampaikan pada diskusi buku, Jumat 13/05/2016

**Pegiat diskusi di Pustaka Kaji