Seni dalam Ruang Publik

d1

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Kota sebagai suatu kesatuan dimana ruang membaur menjadi satu. Ia tak lebih daripada sebuah kepadatan sintetis yang memaksa setiap manusia menjelajahi ruangnya. Sebuah ruang publik sebagai salah satu bagian dari kota tak pernah bisa dipisahkan. Selain dari sebuah superblock yang mewah, hunian yang yang megah, perkantoran yang jauh dari rumah, sebuah ruang publik bisa menjadi tempat untuk menghentikan transisi perpindahan yang terjadi cepat itu. Gang kecil penuh dengan graffiti, coretan unik sepanjang tembok, bahkan rupa manusia bertopeng yang tak pernah lupa akan warnanya menghiasi taman dan perempatan jalan. Tak lain ruang publik menampilkan itu semua.

Ruang publik sebagai tempat membaurnya berbagai jenis manusia. Ruang publik yang  melingkupi taman, jalan, dan kendaraan layaknya sebagai bentuk titik sentris dimana masyarakat berinteraksi. Meski terkadang, jalan dan kendaraan umum, lebih sering digunakan sebagai ruang transit saaja karena manusia tidak berinteraksi di dalamnya sehingga tak berbuah reproduksi social di dalamnya.

Seni, erat kaitanya dengan kota. Seni menjadi sebuah perjumpaan penghibur hati sesaat. Di kota seperti Jakarta, seni menjadi penghias dikala padatnya aktivitas robotik masyarakat. Aktivitas robotik yang seolah mematikan perasaan dan kepekaan masyarakat kota. Sebuah aktivitas dengan rutinitas jenuh berujung untuk mencari suntikan dana hidup. Di antara jalan, taman dan ruang terbuka,antara kesenangan dan uang semata, disana mengalir keceriaan lewat suara. Sang penghibur di sela-sela perjalanan.

Seni menjadi penyetrum manusia  di Kota. Sebagaimana Marco Kusumawijaya dalam esainya, “Secara khusus, ruang publik adalah dialog antara arsitektur dan seni rupa dalam proses penciptaanya, dalam menafsirkan masyarakat dan meminta perhatian mereka atas kualitas urbanitas dan seni budaya.” Disini, seni di taman kota pun lahir. Seni di jalanan tak mau kalah. Begitupula seni yang dibentuk di kendaraan. Semua adalah bentuk dari Seni dalam Ruang Publik.

Beberapa kota telah menjadikan ruang mereka sebagai bentuk dari Creative City. Seni menjadi salah satu elemen pembentuk di dalamnya. Dengan menggabung-gabungkan ide, kreativitas, ke dalam sensasi tata kota, masyaratat dituntun untuk ikut berseni di dalamnya. Seniman dan masyarakat tak pernah terpisah oleh sebuah uang kertas yang sengaja dipatok nominalnya. Ia beraksi dengan rasa senang di hati tanpa peduli berapapun yang masyarakat beri. Baginya kesenangan hati adalah dari memperoleh apa yang dia senangi, begitupula dengan seni.

Mewujudkan Ruang Tengah

Dalam The New Urban Agenda, isu kota dan keberlanjutan terhadap masayarakat penghuni menjadi bagian penting dalam agenda ini. Keterkaitan antara urbanisasi dan pembangunan membuahkan ide bahwa kedua media ini akan menjadi kendaraan parallel untuk pembangunan berkelanjutan. Tak hanya pemerintah, pemangku kepentingan, ataupun penanam modal, namun masayarakat dalam ruang tata kota juga berperan aktif dalam perwujudannya.

Ruang tengah sebagai bagian dari kota berperan dalam pencapaian New Urban Agenda tersebut. Meski berujung pada hunian, namun setiap interaksi dan orientasi masyarakat akan dipengaruhi juga oleh ruang tengah. Komponen lain terkait seni, pusaka, museum, taman, monument, dan ruang tengah publik lainnya menjadi jawaban pemersatu akan masalah segregasi sosial di kota.

Kisah Afrizal Malna. Sang sastrawan dengan gaya khasnya dalam diskusi Seni dan Pusaka (2017), menganggap ruang tengah berkaitan erat dengan skala. Di saat kota itu besar, namun ruang publik yang kecil bisa menjadi jawaban sosial dimana ruang itu bisa menjadi platform. Linda Christanty dalam pandangan kepenulisannya pun menilai bahwa setiap kota perlu memiliki imaji dan ciri-ciri terhadap kotanya sendiri. Hal itu yang bisa terwujud melalui raung tengah.

Lain kisah dengan Jun Kitazawa. Seorang seniman asal Jepang yang sedang mencanangkan proyek Kampung Akuarium menganggap ruang tengah sebagai bentuk daya tarik semua lapisan masyarakat untuk kembali menikmati seni. Bagi Jun, Seni dan bahasa itu sama-sama budaya tapi berbeda. Bahasa memiliki aturan, sementara seni itu bebas tak ada syarat dan ketentuan. Anak-anak bermain di gerobak, melukis. Ibu-ibu menganyam sementara Bapak-bapak dan anak muda membangun rumah idealnya dengan bebas. Ruang tengah sebagai bagian dari terciptanya kesuksesan lain dibalik agenda-agenda urban terdepan memang masih menjadi ide kesemuaan di dalam kota.

Kesenian dibalik formalitas yang ada berusaha mencairkan kepadatan sintetis kota yang ada. Sekarang, yang terjadi di sebuah kota masih bergelimang soal pasar, sementara elemen lain seperti seni mampu mewarnai keabu-abuan yang ada di kota. New Urban Agenda janganlah hanya menjadi sebuah wacana kumpulan tulisan hitam di atas kertas. Agenda dimana tak hanya sebuah program akan hunian layak di ruang yang disebut kota, namun juga menjadi jawaban sederhana akan dibangkitkannya senyuman manusia yang telah termakan oleh kejaran pembangunan yang semakin menuntut untuk maju sepesatnya.

Referensi:

Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

Lynch, Kevin. 1960. The Image of the City. London: The Massachusets Institute of Science and Technology Press.

Diskusi New Urban Legend “Seni dan Pusaka.” Rujak Centre For Urban Studies. Goethe Institute, Agustus 2017.