Dalam proses transformasi BUMN, ada satu pertanyaan mendasar yang selalu kami ajukan kepada setiap perusahaan dalam portofolio negara. Apakah perusahaan ini relevan dengan kebutuhan masa depan, memiliki daya saing yang kuat, dan mampu menciptakan nilai yang nyata bagi Indonesia?
Pertanyaan tersebut merupakan titik awal dari fundamental business review yang kami lakukan terhadap seluruh perusahaan BUMN. Kami menelaah model bisnisnya, mengevaluasi sumber pertumbuhannya, mengukur daya saingnya terhadap standar industri, serta memastikan bahwa setiap aset yang dikelola negara memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
Tidak semua hasil evaluasi memberikan gambaran yang menggembirakan. Banyak perusahaan menghadapi tantangan berupa skala usaha yang terlalu kecil, fokus bisnis yang terfragmentasi, struktur organisasi yang berlapis, atau model usaha yang tidak lagi relevan dengan perkembangan industri. Oleh karena itu, transformasi menjadi sebuah kebutuhan, bukan pilihan.
Transformasi dilakukan agar pertumbuhan perusahaan tetap sehat dan memperoleh keuntungan. Salah satu contoh yang layak dicermati adalah perjalanan PLN Nusa Daya.
Perusahaan ini tidak bertolak dari kondisi yang ideal. Pada satu fase penting dalam sejarahnya, PLN Nusa Daya menghadapi perubahan mendasar yang membuat model bisnis sebelumnya tidak lagi dapat dipertahankan. Namun, alih-alih menyerah, PLN Nusa Daya memilih untuk berubah