Memahami Sihir Realitas Lewat Sains*

Aditiya Nugraha**

Gerhana Matahari Total (GMT) yang hadir di wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016 menunjukkan adanya perubahan sikap masyarakat terhadap peristiwa tersebut. Masyarakat begitu antusias menyambut kedatangan GMT, mulai dari menyiapkan kacamata khusus, mendatangi observatorium atau tempat penyelenggaraan nonton GMT bersama. Tidak ada ketakutan terlihat pada GMT beberapa waktu lalu. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan GMT pada tahun 1983, dimana pemerintah melarang rakyatnya untuk menyaksikan GMT secara langsung. GMT kini dipahami sebagai fenomena tertutupinya cahaya matahari oleh bulan bukan cerita mitos seperti mengamuknya Buta Kala.

Gerhana matahari merupakan salah satu fenomena yang kerap menjadi pertanyaan dari berbagai macam pertanyaan besar yang diajukan manusia. Pertanyaan-pertanyaan seperti: terbuat dari apakah segala sesuatu? Bagaimana alam semesta bermula? Mengapa ada siang dan malam? Menemukan jawabannya pada buku Sihir Realitas (The Magic of Reality) yang dituliskan oleh Richard Dawkins, seorang penulis, ahli etologi, dan biologi evolusioner. Melalui buku ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan mitos terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan jawaban pada sudut pandang sains.

Beragam pertanyaan yang diajukan manusia merupakan cara yang ditempuh untuk memahami realitas. Apakah realitas itu? Dawkins menyatakan bahwa realitas adalah segala sesuatu yang ada, yang diperoleh melalui panca indra atau dengan bantuan instrumen dan pemodelan. Realitas yang ingin dipahami manusia menyimpan sihir puitis. Matahari yang terbenam, bentang pegunungan, atau pelangi di langit di langit merupakan hal yang sangat menggugah, menawan, dan terasa lebih hidup. Inilah yang disebut sebagai sihir puitis.

Dawkins membedakan kata sihir dalam tiga cara yang berbeda: sihir adi-alami, sihir panggung, dan sihir puitis (makna sihir yang digunakan untuk relaitas pada buku ini). Sihir adi-alami adalah sihir yang kita temukan dalam mitos dan dongeng, seperti lampu Aladdin dan kekuatan Harry Potter. Sedangkan sihir panggung merupakan sihir yang seolah adi-alami, akan tetapi hanyalah tipuan.

Dawkins menambahkan bahwa apapun yang adi-alami secara definisi pastilah berada di luar jangkauan sains dan metode sains yang telah mantap dengan baik, sukses melalui ujian dan cobaan, yang telah menyebabkan kita dapat menikmati kemajuan-kemajuan besar dalam pengetahuan selama lebih dari 400 tahun terakhir. Menyatakan bahwa sesuatu terjadi secara adi-alamiah bukan hanya berarti “kita tidak memahaminya” melainkan sama dengan mengatakan ”kita tidak akan pernah memahaminya, jadi tidak usahlah susah payah mencoba” (Hal 23)

Buku sihir realitas ini terdiri dari dua belas bab, dimana setiap bab merupakan pertanyaan mendasar yang sering kita ajukan. Apa itu realitas? Siapakah orang pertama itu? Mengapa ada banyak sekali jenis hewan? Segala sesuatu terbuat dari apa? Mengapa ada malam dan siang? Apa itu matahari? Apa itu pelangi? Kapan dan bagaimana segalanya bermula? Apakah kita sendirian? Apa itu gempa? Mengapa hal buruk terjadi? Apa itu keajaiban?

Pada mulanya mitos telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kecuali pertanyaan mengenai penyusun benda dan makhluk lain. Berikut merupakan salah satu contoh mitos asal-usul dari suku Aborogin ,Tasmania:

Dewa bernama Moinee dikalahkan oleh dewa pesaing bernama Dromerdeener dalam pertempuran mengerikan diantara bintang gemintang. Moinee jatuh dari bintang-bintang ke Tasmania dan mati. Sebelum mati, dia ingin memberikan berkat terakhirnya kepada tempat persemayaman terakhirnya, sehingga dia memutuskan untuk menciptakan manusia.

Namun, dia sedemikian terburu-buru, karena tahu dia sekarat, sampai-sampai dia lupa memberikan lutut kepada manusia ciptaannya dan dia dengan linglung memberi mereka ekor besar seperti kangguru, yang berarti mereka tidak bisa duduk. Lalu dia mati. Manusia tidak suka memiliki ekor kangguru dan tidak memiliki lutut, maka mereka menjerit memohon pertolongan ke kahyangan. Mendengar hal tersebut, Dromerdeener datang karena rasa ibanya dan memenuhi permohonan manusia (hal 32-33)

Setiap daerah memiliki mitos masing-masing atas pertanyaan yang hinggap di kepala. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan, upaya pencerdasan yang tertuju pada rasionalitas gencar dilaksanakan. Akan tetapi, kita tidak bisa menyingkirkan mitos-mitos tersebut begitu saja. Karlina Supeli, astronom sekaligus filsuf pengajar STF Driyarkara, menilai bahwa mitologi tak bisa ditinggalkan begitu saja. Justru itu menjadi tugas manusia saat ini untuk menafsirkan mitologi menjadi nilai-nilai yang relevan. Upaya pencerdasan itu harus dilakukan dengan tetap menjaga tradisi agar bermakna dan dibingkai menjadi sebuah gerak kebudayaan.

Penjelasan dari sudut pandang sains yang diberikan pada buku sihir realitas mudah dipahami dan lengkap, serta ilustrasi yang diberikan memberikan bantuan visual dalam mencerna penjelasan. Fenomena GMT bulan lalu semoga bisa menjadi pertanda bahwa masyarakat kini lebih mengutamakan sains ketimbang meyakini mitos-mitos peninggalan. Melalui buku ini. Marilah kita sambut kedatangan sains dalam memahami realistas dengan sihir puitisnya.

*Disampaikan pada kajian malam Pustaka Kaji, Jumat, 08 April 2016

**Pegiat diskusi Pustaka Kaji, Alumni Jurusan Fisika, MIPA UNJ